Kumpulan Makalah




ternyata
sampai suatu ketika
kita akhirnya seakan ingin memaafkan
segala kekejaman
meski dia enggan memohon maaf
mengaku segala khilaf.

bukan kita mudah lupa
atau kabur dalam menilik neraca
hanya kita ingin meraih peluang
menggapai mutiara kebenaran
meskipun nantinya
kita terpaksa beriringan
dan berpimpin tangan
dengan sang petualang.

kita dan dia
bertolak dari pelabuhan berbeza
dengan hasrat berbeza
namun kini bukanlah ketika
untuk kita
mengkaramkan bahteranya.

di kutip dari CAFENOVEL,COM